Banyak yang masih bingung bedanya bahan utama dan bahan pendukung saat ngitung HPP.
Tenangโฆ kamu nggak salah sendiri. Hampir semua UMKM awalnya bingung di bagian ini.
Bahan utama = bahan yang membentuk produk inti.
Bahan pendukung = bahan yang dipakai untuk menyempurnakan produk, bukan inti.
Makanya saus, topping, bumbu tambahan, minyak oles, dll tetap masuk bahan pendukung.
Bukan cuma packaging.
Kalau salah masukin kategori, hitungan modal kamu bisa ngaco dan harga jual jadi nggak akurat.
Di video ini aku jelasin biar kamu nggak salah lagi.
Pelanโpelan aja, yang penting ngerti alurnya.
Yang sudah punya Tools HPP, langsung praktikkan ya.
Yang belum punya, link ada di bio Teropong Uang.
Strategi Bisnis Anti Rungkad
Bisnis tanpa profit itu badan amal. Berhenti gila marketing.
๐
๐ป
สแดษดษขแดษด ๊ฐแดษดแด
แด๊ฑษชแดแด แดษขแดส แด
ษชแดษชษดแดแดษช แดแดษดษข
๐
s.id/linkTU
Ngitung HPP itu beda banget sama meracik masakan.
Nggak ada yang namanya โrasio idealโ 30% bahan baku, 20% tenaga kerja, 10% overhead.
Itu semua mitos yang bikin banyak UMKM salah hitung dari awal.
HPP itu bukan soal persentase.
HPP itu soal data nyata yang kamu keluarin:
bahan berapa, gas berapa, kemasan berapa, tenaga kerja ada atau nggak.
Dan tiap UMKM pasti beda.
Selama kamu masih pakai tebak-tebakan, ya wajar kalau jualan laris tapi uangnya nggak pernah ngumpul.
Kuncinya cuma satu:
masukkan data yang benar, pakai angka real, bukan feeling.
Biar nggak salah hitung lagi, aku sudah siapin tools HPP yang tinggal kamu isi.
Link ada di video atau di bio.
19/02/2026
Dulu, aku adalah tipe yang percaya bahwa harga harus pakai โrasaโ. Aku seorang crafter, membuat dompet kulit. Setiap kali ada yang tanya, โIni harganya berapa?โ aku selalu gelagapan. Aku hitung modal bahan, lalu ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฌ angka di atasnya, berharap pelanggan tidak kabur. Hasilnya? Terkadang aku dapat untung tipis, seringkali malah rugi, tanpa pernah benar-benar mengerti ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข.
Keadaan berubah saat seorang klien memesan 50 dompet untuk perusahaan. Saat membuat penawaran, aku ๐ฏ๐บ๐ข๐ณ๐ช๐ด. Aku tidak punya data yang solid untuk memberi harga paket. Jika aku salah hitung, bisakah aku menyelesaikan order besar ini tanpa bangkrut? Ketakutan akan kegagalan yang memalukan membuatku akhirnya duduk dan ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ต๐ถ๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข.
Aku buka semua catatan recehan: harga kulit per lembar, pemakaian benang, biaya listrik mesin jahit, ๐ฅ๐ถ๐ณ๐ข๐ด๐ช ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ pengerjaan per produk, hingga nilai penyusutan alat. Untuk pertama kalinya, aku melihat bisnisku bukan sebagai โkegemaran yang menghasilkan uangโ, tapi sebagai ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ช๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด.
Angka akhir yang muncul membuatku tenang sekaligus tercengang. Itu jauh lebih tinggi dari tebakan-tebakanku selama ini. Tapi dengan angka itulah, untuk pertama kalinya, aku bisa menatap mata klien dan berkata, โIni harga saya, dan inilah ๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ,โ dengan percaya diri yang sebelumnya tak pernah ada.
Saat order itu selesai dan pembayaran masuk, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Uang itu terasaโฆ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฎ. Bukan haram secara agama, tapi ๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฌ, ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฏ๐ข, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐จ๐ถ๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฏ. Inilah yang disebut โ๐ฅ๐ช๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช ๐ถ๐ข๐ฏ๐จโ. Uang datang bukan karena keberuntungan, tapi karena kita telah menjadi ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ณ๐ฆ๐ด๐ฑ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ช๐ฃ๐ฆ๐ญ atas nilainya.
Pelajaran berdarah-darah itu mengajariku: Uang akan mencintaimu ketika kamu berani berdiri di belakang angka yang jujur. Itu adalah bahasa universal yang menghargai setiap detik usahamu.
17/02/2026
Aku pernah berpikir kalau โuang itu jahatโ. Ia selalu datang sebentar, lalu lari ke orang lain. Dulu, setiap lihat orang sukses, aku bisikin ke diri sendiri: โAh, dia cuma beruntung aja.โ Sampai akhirnya bisnis kecil-kanku sendiri hampir tumbang.
Waktu itu, aku jualan brownies kukus. Harganya aku pasang ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จโcuma ikut-ikut harga pasar. Yang penting murah, biar laku. Hasilnya? Ramai sih. Tapi setiap akhir bulan, aku malah bingung: โ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข?โ Aku sibuk banget, tapi dompet tetap kempes. Uang seolah ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ dariku.
Suatu hari, aku ikut kelas finansial UMKM dan ditantang untuk bedah HPP browniesku. Saat itulah aku tersentak. Ternyata, setelah dihitung ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด, biaya per potongnya bukan Rp5.000 seperti kugira, tapi Rp7.300. Sedangkan aku jual cuma Rp6.000. Aku ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ฑ2.300 ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ฐ๐ฅ๐ข๐ญ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ณ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ. Aku bukan pebisnis, aku ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ.
Dalam bahasa Teropong Uang: saat itu, ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ. Bukan karena aku orang jahat, tapi karena aku berlaku ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ pada angka. Aku menghina kerja kerasku sendiri dengan tidak mau paham detailnya. Uang itu seperti energiโia akan mengalir ke tangan yang mengenalinya dengan baik, yang menghormatinya dengan perhitungan yang jujur.
Sejak aku berdamai dengan angka, memelajari HPP sampai ke titik paling dasar, segalanya berbalik. Aku naikkan harga dengan percaya diri karena tahu nilainya. Pelanggan justru menghormatiku karena transparansi. Sekarang, uang itu ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช๐ฌ๐ถ. Ia betah di rekeningku, karena aku tak lagi menyia-nyiakannya.
Ini bukan soal nasib. Ini soal ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ต๐ถ๐ด๐ข๐ฏ. Kamu memilih jadi pebisnis yang dicintai uang, dengan cara mau memahami bahasanya: angka. Atau kamu memilih dibencinya, dengan terus berdagang sambil memejamkan mata.
15/02/2026
Aku pernah ada di fase ngerasa "sudah jadi orang" cuma karena liat angka omzet di mutasi rekening yang jumlahnya lumayan. Tiap ada yang tanya bisnis gimana, aku jawab dengan bangga kalau penjualannya naik terus. Aku merasa paling produktif sedunia karena setiap hari sibuk operasional.
Tapi ada satu sore yang bikin aku terduduk lemas di depan laptop. Pas aku coba iseng bedah ๐๐ฃ๐ฃ lebih dalamโbukan cuma harga bahan baku, tapi sampai ke biaya listrik yang naik, kuota internet buat balas chat pelanggan, sampai biaya parkir tiap ke supplierโternyata angka-angka kecil itu kalau dikumpulin jumlahnya mengerikan. Aku baru sadar kalau "keuntungan" yang selama ini aku pakai buat jajan kopi mahal sebenarnya adalah modal yang pelan-pelan terkikis.
Rasanya nyesek banget. Kayak kamu lagi bawa ember bocor, kamu pikir embernya penuh karena kamu terus-terusan isi air, tapi ternyata bagian bawahnya sudah mau jebol. Aku malu sama diri sendiri karena selama ini aku cuma fokus ke "berapa yang masuk", tapi buta sama "berapa yang sisa".
Pelajaran pahit ini bikin aku paham kalau bisnis itu bukan tentang siapa yang omzetnya paling gede, tapi siapa yang paling ๐ท๐๐ท๐๐ฟ sama angkanya. Ternyata, tahu HPP sampai ke satuan terkecil itu bukan soal pelit atau perhitungan, tapi soal cara kita menghargai waktu dan tenaga yang sudah kita buang buat bisnis ini.
Sekarang aku lebih milih punya omzet kecil tapi aku tahu persis ke mana perginya setiap rupiah, daripada kelihatan sibuk tapi sebenarnya cuma lagi nunggu waktu buat bangkrut pelan-pelan.
13/02/2026
Aku pernah melewati fase di mana aku mengira "kesibukan" sama dengan "produktivitas". Setiap hari dari pagi sampai malam aku terjun langsung ke semua operasional: dari belanja bahan, produksi, packing, sampai kirim barang. Rasa capek di penghujung hari kupakai sebagai bukti kalau bisnisku lagi on fire.
Lalu ada satu momen yang bikin semuanya runtuh. Saat ada pelanggan setia tanya, "Kak, kapan ada diskon lagi? Kemarin kan diskon 30%." Aku cek catatan, dan jantungku langsung berdebar kencang. Ternyata, diskon "gila-gilaan" yang aku kasih bulan lalu untuk serukan "Ramai-ramai" malah bikin aku jual rugi. Aku hitung ulang HPP-nya, dan ternyata harga setelah diskon itu bahkan nggak nutup biaya tenaga kerjaku sendiri. Aku selama ini bukan sedang "berjualan", tapi sedang "membeli pelanggan" dengan cara membakar modal.
Rasanya seperti ditampar keras. Selama ini aku pikir aku pinter memancing pelanggan dengan diskon, tapi tanpa sadar aku justru memberikan umpan yang lebih mahal dari ikannya. Aku sibuk, produksi jalan, tapi uang di rekening bisnis malah menipis pelan-pelang. Aku terjebak dalam ilusi "keramaian" yang justru menggerogoti pondasi.
Dari situlah aku belajar satu prinsip yang sekarang jadi pegangan: dalam bisnis, ๐ฏ๐ข๐ช๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ itu penting, tapi yang lebih vital adalah ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ช๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ yang sehat. Sekarang, sebelum buat strategi promo apapun, aku selalu tanya ke diri sendiri: "Apakah ini bikin bisnismu tetap hidup dalam jangka panjang, atau cuma bikin kamu keliatan sibuk dan populer sebentar?"
Karena sekarang aku paham, tujuan berbisnis bukan untuk jadi pahlawan yang memberi harga murah ke semua orang, tapi untuk membangun ekosistem yang adil: dimana pelanggan dapat nilai terbaik, dan kita sebagai pelaku usaha juga bisa terus bernapas lega untuk berinovasi dan memberi layanan yang lebih baik.
11/02/2026
Aku punya confession yang mungkin kamu rasakan juga: dulu, aku sering iri sama orang yang keliatan "sukses mendadak". Kayak yang bisnisnya langsung viral, atau yang karirnya melesat cuma dalam setahun. Aku mikir, "kok bisa ya, gue di sini berjuang pelan banget?"
Sampai suatu ketika, aku ngobrol sama salah satu founder yang sering disebut "overnight success" itu. Dan ceritanya bikin aku malu sama pikiranku sendiri. Ternyata, sebelum "mendadak" itu, dia sudah gagal tiga kali dalam bisnis sejenis. Yang viral itu adalah produk keempatnya. Dia punya folder penuh dengan desain yang ditolak, riset pasar yang salah, dan prototype yang jelek. Itu belum termasuk tabungannya yang nyaris habis dan hubungannya yang sempat renggang karena sibuk berjuang.
Di situlah aku sadar: ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ "mendadak". Yang keliatan cuma puncak gunung esnya, sementara 90% badan es yang beku dan beratnya ada di bawah permukaan, tidak terlihat. Kita hanya menyaksikan "achievement", tapi buta terhadap "proses" yang berantakan dan mahal.
Makanya sekarang, tiap kali aku lihat kesuksesan orang, aku tanya ke diri sendiri: "Apa yang bisa aku pelajari dari ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ yang mereka tempuh, bukan cuma dari ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ต๐ช๐ฏ๐ข๐ด๐ช yang mereka capai?" Mindset ini yang bikin aku lebih tenang menjalani prosesku sendiri. Aku gak lagi merasa tertinggal, karena aku tahu yang sedang aku jalani adalah bagian dari "badan es" yang suatu hari akan menopang puncakku sendiri.
Pesan utamaku cuma satu: Jangan sampai kita terpesona oleh panggung yang terang, sampai lupa betapa gelap dan sunyinya ruang latihan yang harus dilewati untuk sampai ke sana. Fokuslah membangun "badan es" muโkokoh, massif, dan siap menopang apa pun yang akan kamu puncaki nanti.
Harga kompetitor bukan acuan.
Kamu nggak tahu HPP mereka, margin mereka, atau kondisi mereka.
Bisa jadi mereka murah karena kuatโฆ
bisa jadi karena mereka nggak sadar lagi rugi.
Harga jual yang sehat selalu lahir dari angka kamu sendiri.
Bukan angka orang lain.
09/02/2026
"๐๐ฎ๐บ๐ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐๐ผ๐บ๐ถ๐๐ถ ๐ง๐ถ๐ฏ๐ฎ-๐ง๐ถ๐ฏ๐ฎ ๐ก๐ฎ๐ถ๐ธ?"
Aku ingat betul wajahnyaโcampur aduk antara lelah dan bingung. Di layar laptopnya, toko online-nya ๐น๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ฒ๐. Tapi setiap akhir bulan, dia malah bertanya, "๐จ๐ฎ๐ป๐ด๐ป๐๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ, ๐๐ถ๐ต?"
Dia punya usaha snack homemade yang estetik banget. Setiap hari, notifikasi order berdering tanpa henti. Tapi ada satu hal yang bikin dia selalu deg-degan: *setiap kali buka dashboard Shopee, kebijakan berubah.* Komisi naik dikit. Promosi wajib ikut. Biaya admin berubah lagi.
"Awalnya komisi cuma 5%," katanya sambil geleng. "Sekarang bisa tembus 15% kalau lagi promo ๐๐ถ๐ ๐ฆ๐๐๐. Aku jualan ๐ด๐ฎ๐ธ ๐ท๐ฒ๐น๐ฎ๐ untungnya berapa, karena HPP aja aku hitungnya asal."
Dan itu ๐ฟ๐ฒ๐ฎ๐ธ๐๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ-๐ป๐๐ฎ: "๐ฌ๐ฎ๐ต, ๐น๐ฎ๐ฏ๐ฎ ๐ฑ๐ผ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฎ๐๐๐ถ."
Tapi lama-lama, dia mulai ngeh. Setiap ada flash sale, dia malah *ketar-ketir*. Bukan karena takut sepi, tapi karena takut rugi tanpa sadar.
Aku nggak akan menyuruh kamu buka spreadsheet rumit. Tapi coba bayangin ini:
- HPP per toples snack: Rp 18.000
- Harga jual di Shopee: Rp 25.000
- ๐๐ฎ๐ฏ๐ฎ ๐ธ๐ผ๐๐ผ๐ฟ: Rp 7.000, pikirnya.
Tapi itu belum dipotong:
- Komisi platform (yang s**a mendadak naik)
- Biaya promo (wajib, kalau nggak ikut, produkmu tenggelam)
- Biaya kirim (kadang ditanggung seller)
- ๐ช๐ฎ๐๐๐ฒ produk rusak saat pengiriman
Setelah dihitung ulang, laba kotornya ๐ฐ๐๐บ๐ฎ ๐ฅ๐ฝ ๐ญ.๐ฑ๐ฌ๐ฌ. Bahkan kadang minus. Dia jualan ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ต, bukan ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ.
Dia cerita, "๐๐ธ๐ ๐ฏ๐ถ๐๐ฎ ๐ต๐ถ๐๐๐ป๐ด ๐ญ๐ฌ๐ฌ ๐ผ๐ฟ๐ฑ๐ฒ๐ฟ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ถ, ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ฎ๐ธ๐ ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐ธ ๐ฏ๐ถ๐๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐๐ฟ ๐ฝ๐ฎ๐ด๐ถ ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐ธ๐ต๐ฎ๐๐ฎ๐๐ถ๐ฟ ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ป๐๐ฎ ๐ต๐ฎ๐ฏ๐ถ๐ ๐ฑ๐ถ ๐ฏ๐ถ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ด๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ธ๐ ๐ฝ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ."
Momen universalnya di sini: berapa banyak dari kita yang ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ฐ๐ ๐ผ๐ฟ๐ฑ๐ฒ๐ฟ ๐๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ถ ๐ฏ๐ถ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฑ๐ถ ๐ฏ๐ฎ๐น๐ถ๐ธ ๐น๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ? Platform digital itu seperti lautโkadang tenang, kadang gelombangnya ๐ฑ๐ผ๐ฟ๐ผ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐บ๐๐ฎ ๐ฝ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐ธ๐๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ฐ๐ถ๐น ๐ธ๐ถ๐๐ฎ.
Prosesnya dimulai dari satu langkah sederhana: dia akhirnya ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ถ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฒ๐ป๐๐ถ ๐๐ฒ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ฏ๐ฒ๐น ๐๐ฃ๐ฃ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฟ๐ฒ๐ฎ๐น.
Bukan cuma bahan baku, tapi ๐ฆ๐ฒ๐บ๐๐ฎ ๐ฏ๐ถ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ป๐๐ถ: listrik untuk oven, kemasan tambahan agar tidak rusak, bahkan waktu yang dia habiskan untuk packing.
Dari situ, dia baru bisa bernapas. Bukan karena tiba-tiba kaya, tapi karena dia ๐ฏ๐ถ๐๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฒ๐ด๐ผ๐๐ถ๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฒ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ฐ๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ฎ๐. Kapan ikut promo, kapan menahan diri. Kapan bisa nawar dengan kurir, kapan harus tegas dengan harga minimum.
Pelajarannya?
๐๐ถ๐๐ป๐ถ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ฒ๐น๐ฎ๐ป๐ท๐๐๐ฎ๐ป ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐น๐ ๐น๐ฎ๐ฟ๐ถ๐, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ต๐ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ถ๐ ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ต๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ฎ ๐ฏ๐ถ๐๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐๐ฒ๐ด๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ฝ๐๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฏ๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ ๐น๐๐ฎ๐ฟ.
Jadi, kalau kamu lagi merasa "๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฒ๐น๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ธ๐ธ๐ฎ๐ป" ๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฏ๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป ๐ฝ๐น๐ฎ๐๐ณ๐ผ๐ฟ๐บ, coba tanya satu hal dulu:
"๐๐ฝ๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐๐๐น-๐ฏ๐ฒ๐๐๐น ๐ฎ๐ธ๐ ๐๐ฎ๐ต๐ ๐ฏ๐ถ๐ฎ๐๐ฎ ๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ ๐ฝ๐ฟ๐ผ๐ฑ๐๐ธ๐ธ๐ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ?"
Karena pondasi itu nggak terlihat, sampai gelombang datang.
Dan yang selamat bukan yang paling cepat berenang, tapi yang paling paham kedalaman airnya sendiri.
Harga jual itu bukan tentang kamu. Bukan tentang perasaanmu. Bukan tentang โkayaknya segini cukupโ. Harga jual itu lahir dari HPP. Dari angka yang bisa kamu pertanggungjawabkan. Kalau kamu jual di bawah harga minimal, kamu bukan lagi jualan. Kamu sedang nyumbang ke pelangganmuโฆ tanpa mereka tahu. Dan bisnis yang nyumbang terus nggak akan pernah bertahan lama. Besok kita belajar cara nentuin harga jual yang bener. Tetap di sini.
07/02/2026
Aku pernah lihat temen deket benar-benar hancur karena bangkrut, cuma dalam 6 bulan buka coffee shop. Parahnya, tempatnya itu ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฒ, ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฝ๐ถ. Tapi dia sibuk ngurusi estetika feed Instagram, nyari playlist yang aesthetic, sampai lupa ngitung yang paling dasar: ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐จ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ณ๐ช๐ด, ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ต๐ฐ๐ฏ๐จ?
Di sinilah HPP (Harga Pokok Penjualan) main. Dia itu ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฒ๐ฏ๐ผ๐ต๐ผ๐ป๐ด๐ฎ๐ป terbaik kamu. Dia tunjukin semua "tulang rusuk" bisnismu yang patah: harga biji kopi, susu, sewa tempat, listrik, bayaran karyawan, hingga plastik sedotan per gelasnya. Tanpa ngerti ini, kamu cuma lagi ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐น๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐บ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐๐๐๐ฝ. Itu bukan bisnis, itu judi yang pake kostum.
Makanya, Teropong Uang selalu gebukin satu poin: ๐๐จ๐๐ฆ๐๐๐ก ๐๐ฃ๐ฃ ๐๐จ๐๐จ. Bukan buat bikin kamu takut, tapi biar kamu ๐ด๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฎ๐๐ถ ๐ธ๐ฎ๐ด๐ฒ๐-๐ธ๐ฎ๐ด๐ฒ๐๐ฎ๐ป. Pas kamu pegang itu angka sakti, baru kamu bisa ngambil keputusan dengan otak, bukan cuma modal nekat. Mau kasih diskon? Bisa. Mau nawarin buy 1 get 1? Tau risikonya. Semuanya jadi hitungan, bukan cemburu buta sama competitor.
Intinya, ngerti HPP itu tanda kamu ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ผ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ถ ๐บ๐ถ๐บ๐ฝ๐ถ๐๐ฎ sendiri. Kamu kasih fondasi, bukan cuma tempel wallpaper cantik di tembok yang retak. Jangan sampe kamu sibuk naik level, tapi ternyata main game yang salah dari awal.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Surabaya
Opening Hours
| Monday | 09:00 - 18:00 |
| Tuesday | 09:00 - 18:00 |
| Wednesday | 09:00 - 18:00 |
| Thursday | 09:00 - 18:00 |
| Friday | 09:00 - 18:00 |